Minggu, 26 Oktober 2014

Makalah SKI Sejarah Nabi Muhammad

SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW
Makalah ini diajukan untuk
Memenuhi tugas SKI semester I

Tahun pelajaran 2013-2014


Disusun oleh :
Kelas XI IPA 6
1.     Mienchah Al Chasna
2.     Radha Faradhila
3.     Safira Qisthina
4.     Suhaila Zakiya N.
5.     Viky Qurratul U.



KATA PENGANTAR

          Makalah ini disusun guna memenuhi tugas SKI kelas XI semester I. Makalah ini dapat dijadikan sebagai panduan atau sumber belajar bagi siswa kelas XI yang tengah mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam.
            Makalah ini disusun dan dikemas secara sistematis untuk memudahkan pembelajaran dalam penguasaan materi Sejarah Kebudayaan Islam kelas XI semester I. Untuk itu, makalah yang kami buat akan sangat membantu dalam proses pembelajaran.
            Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Namun, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat. Semoga keberhasilan selalu berpihak kepada kita semua. Amin.
  









Penyusun






A.    LATAR BELAKANG
Di era globalisasi banyak kaum Muslimin yang tidak mengetahui sejarah perjuangan Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin dalam menyebarkan dan mempertahankan agama Islam

B.    RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana dakwah Islam pada periode Mekah?
2.      Bagaiman dakwah Islam pada periode Madinah?
3.      Bagimana usaha Khulafaur Rasyidin dalam perluasan agama Islam?

C.     TUJUAN
1.        Mengetahui dakwah Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam di Mekah
2.        Mengetahui dakwah Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam di Madinah
3.        Mengetahui usaha Khulafaur Rasyidin dalam perluasan agama Islam



D.    PEMBAHASAN
Dakwah Islam Pada Periode Mekah

1.              Peradaban Bangsa Arab
Sebelum peradaban Islam memecah di masyarakat Arab, bangsa Arab sebenarnya telah mengenal kehidupan politik, sosial, ekonomi, bahasa, seni, dan pengguna metode berpikir, meskipun masih sederhana. Dalam bidang sosial, masyarakat Arab pada masa jahiliyah tidak memiliki sistem pemerintahan yang mapan. Mereka hanya memiliki pemimpin yang disebut Syeikh atau Amir.
Bagi masyarakat pedalaman, yaitu masyarakat Badui, kehidupan sosial ekonomi mereka biasanya dilakukan melalui sector pertanian terutama mereka yang mendiami daerah subur di sekitar Oase. Akan tetapi bagi masyarakat Arab perkotaan, kehidupan sosial mereka di tentukan oleh keahlian dalam perdagangan. Terdapat 2 musim dalam berdagang, saat musim panas berdagang ke Negara Syam, saat musim dingin ke Negara Yaman. Di kota Makkah terdapat pusat perdagangan, yang disebut Ukaz, yang di buka pada bulan Zulqo’dah, Zulhijjah, dan Muharram.
2.              Agama dan Kepercayaan Bangsa Arab
Ajaran tauhid sudah tertanam di masyarakat Arab dan ajaran Nabi Ibrahim a.s. lazim juga disebut ajaran agama Hanif artinya yang benar dan lurus. Setelah berpuluh-puluh abad ajaran tersebut mengalami perubahan, diputarbalikan, ditambah dan dikurangi oleh para pengikutnya yang tidak bertanggung  jawab yang kemudian muncul berbagai ajaran yang meragukan.
Bangsa Arab mulai menyembah berhala ketika ka’bah berada di bawah kekuasaan Jurhum. Pasukan yang dipimpin oleh Amr bin Lubayi dari keturunan Khuza’ah yang datang ke Makkah yang kemudian berhasil mengalahkan Jurhum. Kemudian Amr bin Lubayi meletakkan sebuah berhala besar yang bernama Hubal yang terbuat dari batu akik merah yang berbentuk patung orang, yang ditempatkan di sisi ka’bah, untuk disembah.
Sejak itulah bangsa Arab memulai menyembah berhala. Ketika bangsa Quraisy berkuasa lagi di Hijaz, disekeliling ka’bah sudah penuh dengan berhala yang berjumlah kurang lebih 360 buah, banyak macam berhala, a. Lata di Thaif, b. Uzza di Hijaz sesudah hubal, c. Manah di Madinah, dan masih banyak lagi (Asaf, Nailah, Wudd, Yaghuts, Suwa, Nashr, Ya’ng, Manaf). Berhala ini bagi bangsa Arab merupakan perantaranya terhadap Tuhan. Sehingga pada hakikatnya  bukanlah berhala-berhala itu yang mereka sembah namun hanya sebagai perantara. (QS. Al-Zumar ; 3).
3.              Keadaan sosial Budaya Bangsa Arab

Dalam bidang bahasa dan seni bahasa, orang-orang Arab pada masa itu pra islamnya sudah sangat maju. Bahasa mereka indah, dan syair mereka sangat banyak. Dalam lingkungan mereka para syair sangat dihormati. Tiap tahun di Pasar Ukaz diadakan deklamasi sajak yang sangat luas.
Salah satu kelaziman bangsa Arab adalah mengadakan majelis atau nadwah sebagai sarana untuk mendeklamasi sajak, bertanding pidato, tukar menukar berita. Seperti : Nadi Quraisy dan darun Nadwah, yang berdiri disamping ka’bah sebagai nadwah mereka.

4.              Penghargaan Bangsa Arab  Terhadap Kaum Wanita

Moral bangsa Arab pada masa jahiliyah umumnya sangat merosot, sehingga mencemarkan kehidupan bangsa dan negara. Salah satu adat yang sangat jelek adalah ia mengubur anak perempuan hidup-hidup. Perbuatan kejam dan biadab itu biasanya mereka lakukan karena takut mendapat malu dan miskin. Mereka (laki-laki) juga memiliki kebiasaan mengawini dan menceraikan kaum wanita sesuka mereka. Sehingga timbulah perkawinan antara anak istri dan ayahnya tau ibu tirinya.

5.              Putra Dari dua Orang Yang Dikorbankan

Suku Quraisy ketika itu membanggakan Abdul Muthalib, kakek Rasululloh SAW dengan keturunan dan kekayaanya. Ketika itu, Abdul Muthalib bernazar seandainya Allah memberinya rezeki sepuluh anak laki-laki, maka ia akan menyembelih seseorang dari mereka untuk mendekatkan dirinya pada Tuhan. Keinginanya itu terpenuhi, ia dikaruniai sepuluh orang anak laki-laki yang salah satunya bernama Abdullah, ayahanda Rasulullah. Tak kala Abdul Muthalib hendak melaksanakan nazarnya. Orang-orang mengahadangnya agar tidak menjadi tradisi lagi mereka. Setelah itu, mereka bersepakat untuk mengundi nasib (dengan anak panah) antara Abdullah dan sepuluh ekor unta. Kemudian mereka menambah unta saat anak panah  undian berpihak pada unta yang telah mencapai 100 ekor unta. Akhirnya, mereka menyembelih unta-unta tersebut.
Ketika Abdullah telah beranjak dewasa, ayahandanya memilihkanya  seorang gadis dari Bani Zuhrah yang bernama Aminah binti Wahab. Abdullah telah menjalankan tugas dalam mengarungi bahtera dalam kehidupan ini, dan setelah 3 bulan dari kehamilan Aminah yang mengandung Rasulullah, Abdullah keluar kota bersama rombongan dagang ke negeri Syam. Dalam perjalan pulang, ia menderita sakit keras sehingga ia menetap di Madinah dengan paman-pamanya yang bernama Bani Najjar. Disinilah, akhirnya ajal menjemputnya dan di Madinah pula Abdullah dikebumikan.
Masa-masa kehamilan telah usai, hari melahirkan telah tampak. Namun, Aminah tidak merasakan sakit yang biasa dirasakan oleh para wanita ketika melahirkan. Menjelang fajar, tepatnya pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal 571 M, yang bertepatan dengan kaum gajah, Aminah pun melahirkan anaknya.

6.              Kisah Pasukan Gajah

Ringkasan kisah pasukan gajah adalah ketika Abrahah Al-Habsyi Gubernur Yaman melihat bangsa Arab berbondong-bondong ke Mekkah untuk menunaikan haji. Maka ia membangun gereja besar di San’a dan ia ingin mengalihkan bangsa Arab untuk menunaikan ibadah haji di sana. Hal ini di dengar  oleh seseorang dari Bani Kinanah, salah satu suku Arab, lalu ia memasuki gereja tersebut dan melumuri temboknya dengan kotoran.
Tatkala mengetahui hal itu, Abrahah berkobar marah dan segera berangkat menuju ka’bah dengan membawa pasukan yang berjumlah 60.000 personel untuk mengahancurkan ka’bah. Ia memilih untuk dirinya seekor gajah yang sangat besar. Sementara pada pasukanya terdapat 9 ekor gajah, ia melanjutkan perjalanan hingga hampir tiba di kota mekkah. Disana pasukannya bersiap-siap untuk memasuki kota Mekkah , namun gajah-gajah tersebut diam dan tidak mau beranjak maju ke ka’bah. Dan ketika mereka mengarahkanya ke arah lain, gajah-gajah tersebut bangkit dan bergegas melangkah. Namun saat mereka palingkan ke arah ka’bah lagi, gajah-gajah kembali diam.
Ketika itulah, Allah mengutus kepada mereka burung-burung ababil (yang berbondong-bondong) untuk melempari mereka dengan batu yang berasal dari tanah yang terbakar, dan membuat mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.

7.              Peristiwa Pembelahan Dada

Pada suatu hari, ketika Muhammad mendekati usia 4 tahun, tepatnya di saat beliau bersama putra Halimah bermain jauh dari perkemahan. Maka datanglah putra Halimah sambil berlari, dan raut wajahnya sangat cemas. Ia meminta agar Halimah menyusul saudaranya Muhammad, lalu Halimahpun menanyakan tentang permasalahanya. Kemudian anak ini berkata “Sungguh saya melihat dua orang laki-laki berpakaian putih, mereka mengambil Muhammad dari kami dan melentangkanya, lalu mereka membelah dadanya”.
Namun, saat Halimah mendatangi Rasulullah, dia melihat Muhammad berdiri ditempatnya tanpa bergerak, wajahnya terlihat kekuning-kuningan dan pucat, lalu dengan rasa takut dan cemas Halimah menanyakan tentang apa yang menimpanya. Lalu muhammad memberitahukan bahwasanya dia dalam keadaan baik, dan menceritakan bahwa ada dua orang laki-laki berpakaian putih yang mengambilnya, membelah dadanya untuk mengeluarkan hatinya, lalu mengeluarkan segumpal darah hitam darinya, lalu membuangnya. Lalu mencuci hatinya dengan air dingin dan mengembalikanya ke rongga tubuh untuk kemudian mengusap dadanya. Dan kedua orang tersebut menghilang. Halimah menceritakan hal tersebut pada Aminah.
Aminah keluar bersama putranya untuk mengunjungi paman-pamanya dari Bani Najr dan menetap  beberapa hari disana. Dalam perjalanan pulangnya, ajalpun menjemput Aminah, di tempat yang bernama Abwa, dan di tempat itu pula ia dikebumikan. Lalu Muhammad di asuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib. Setelah genap umur 6 tahun, kakeknya meninggal. Lalu Muhammad di asuh oleh pamanya yang bernama Abu Thalib. Beliau tumbuh atas dasar kejujuran dan amanah. Maka orang-orang berkata : “Telah datang al-Amin” (orang yang dapat di percaya), yang ditujukan pada Muhammad.
Saat Muhammad beranjak dewasa, ia berpergian untuk mencari pekerjaan, ia bekerja sebagai pengembala kambing. Kemudian Muhammad bergabung denan rombongan dagang ke negeri Syam. Rombongan tersebut di biayai oleh Khadijah binti Khuwailid, seorang yang terpandang sangat kaya. Dengan keberkahan Rasulullah, perdagangan Khadijah mendapatkan laba yang belum pernah dialami sebelumnya. Lalu ia bertanya pada Maisarah (pembantunya) perihal penyebab laba yang cukup besar dari sebelumnya. Lalu Maisarah menceritakan tentang perbuatan Muhammad, dan semenjak itulah Khadijah mulai kagum dengan Muhammad. Dan akhirnya Muhammad  menikah dengan Khadijah di umur 25 tahun. Dan memiliki 4 anak perempuan yang bernama  Zainab, Ruqayah, Ummu Kutsum dan Fatimah, dan 2 orang putra yang bernama Qasim dab Abdullah yang meninggal dunia dimasa kecilnya.

8.              Kenabian

Menjelang usianya yang berumur 40 tahun, Muhammad sering menyendiri dan berkhalwat di goa Hira, yaitu Goa yang berasa di gunung yang terletak di dekat Mekkah. Di sanalah, beliau menghabiskan waktu selama berhari-hari dan bermalam-malam. Pada malam ke dua puluh dari bulan Ramadhan, yaitu ketika beliau berada di dalam goa Hira, beliau di datangi malaikat Jibril yang seraya berkata “Bacalah!”, beliau menjawab “aku tak dapat mebaca”,  namun Jibril mengulangi ucapan tersebut hingga ketiga kalinya, Jibril berkata kepadanya  (Q.S. Al-Alaq: 1-5)
Setelah itu, Jibrilpun meninggalkanya, dan Rasulullah sudah tidak kuat lagi berada di goa Hira’. Akhirnya beliau pulang kerumahnya dan menghampiri Khadijah dengan gemetar sambil berkata “selimuti saya!”, “selimuti saya!”, maka Khadijahpun menyelimutinya, lalu memberinya Khadijah apa yang telah terjadi. Beberapa hari kemudian, beliau kembali ke goa Hira untuk melanjutkan ibadahnya yang tersisa dalam bulan Ramadhan. Setelah bulan Ramadhan berakhir, beliau turun dari goa Hira dan kembali ke Mekkah, ketika sampai di tengah lembah, Jibril mendatangi sambil duduk diatas kursi antara bumi dan langit.
Setelah itu, wahyu pun turun terus menerus dan berkelanjutan. Nabi memulai dakwahnya, Khadijah masuk islam dan bersaksi atas keesaan Allah dan kenabian suaminya yang mulia. Sehingga ia adalah orang yang pertama masuk islam. Kemudian, sebagai balas budi pamannya, Abu Thalib yang mengasuh dan menjaga sejak kepergian ibu dan kakeknya, Rasulullah memilih Ali dari sekian banyak putra tersebut, untuk dididik di sisinya dan ditanggung nafkahnya. Dalam kondisi seperti ini, hati Ali pun terbuka, dan akhirnya masuk islam.
Selanjutnya, Rasul dakwah secara sembunyi-sembunyi. Dikatakan sembunyi-sembunyi disini, mengingat tempat para sahabat, pengikutnya, dan orang-orang yang mereka ajak masuk islam tersebut bersifat sangat rahasia.

9.              Dakwah Secara Terang-Terangan
Setelah Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun lamanya, lalu Allah menurunkan ayat :
Artinya :Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyirk. (QS. AL_Hijr: 94)
Pada suatu hari Rasulullah berdiri diatas bukit Shafa memanggil kaum Quraisy, hingga orang-orangpun mengerumuninya. Diantara mereka, terdapat pamanya, Abu Lahab, seorang tokoh Quraisy yang paling memusuhi Allah dan Rasul-nya. Tatkala orang-orang telah berkumpul, beliau bersabda : “bagaimana pendapat kalian, seandainya saya memberitahu kalian bahwa di balik gunung ini ada musuh yang menanti kalian, apakah kalian mempercayai saya ?”mereka menjawab “yang terlintas di hati kami tentang anda adalah kejujuran dan amanah”, beliau lalu bersabda : “saya adalah orang yang member peringatan kepada kalian bahwa dihadapan kalian ada siksa yang maha berat”. Kemudian Rasulullah mengajak mereka untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala.
Abu lahab langsung keluar dari kerumunan orang-orang dan berkata :TabbanLaka, Alihadza daawtana ? “Celakalah kamu!, apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami ?”, setelah kejadian itu Allah menurunkan QS. AL-Lahab.
Nabi tetap melanjutkan dakwahnya dan memulai secara terang-terangan di tempat-tempat mereka berkumpul, dan mengajak mereka masuk agama islam, bahkan beliau melakukan shalat disisi ka’bah. Sementara itu penyiksaan orang-orang kafir terhadap kaum mukminin semakin bertambah, sebagaimana yang dialami Yazir dan Sumaiyah yang akhirnya mati syahid. Sumaiyah adalah wanita pertama dalam islam yang mati syahid disebabkan oleh penyiksaan.
Bilal masuk islam melalui perantara Abu Bakar. Suatu ketika Umayyah memergokinya, lalu ia pun menimpakan berbagai macam siksaan agar Bilal mau meninggalkan islam. Namun Bilal tetap menolak, dan tetap berpegangteguh terhadap Islam. Lalu Umayyah membawa Bilal keluar kota Mekkah dalam keadaan terikat rantai. Setelah tubuhnya ditelantangkan diatas pasir yang membara, diletakan batu besar diatas dadanya, untuk kemudian Umayyah beserta para pengikutnya menghujaninya dengan cambukan. Bilal hanya mengucapkan Ahad (Yang MahaEsa), hingga akhirnya abu bakar melihatnya, dan membelinya lalu membebaskanya di jalan allah.
10.           HijrahkeHabasyi I dan II
Berkenaan dengan terus-menerusnya siksaan kaum musyrikin kepada orang-orang yang masuk islam, terutama orang-orang lemah, Rasulullah meminta sahabatnya untuk hijrah ke Habasyi demi menyelamatkan agama mereka di sisi raja Najasyi yang akan menjamin keamanan mereka, terutama keaamanan sebagian besar kaum muslimin.
Lalu berhijrahlah serombongan kaum muslimin yang berjumlah kurang lebih 70 orang beserta keluarga mereka keHabasyi. Kedatangan mereka di habasyi di sambut dengan baik oleh Raja Nejus. Bahkan ia memberikan perlindungan, dan mempersilahkan untuk beribadah.
Hijrah ke Habsyi yang pertama hanya 2 bulan, kemudian mereka kembali ke Mekkah, keberhasilan umat islam untuk mendapatkan perlindungan di habsyi serta semakin banyak orang-orang Makkah masuk islam, kafir Quraisy semakin geram. Mereka semakin kuat menekan dan menganiaya orang islam. Dalam kondisi itulah Nabi Muhammad SAW, mengusulkan kembali kepada umat islam agar hijrah kembali ke Habsyi. Hijrah yang kedua diikuti oleh 101 orang, diantarannya terdapat 18 orang wanita yang di pimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib.

Kepergian orang-orang islam yang kedua ini ke Habsyi juga disambut hangat oleh Raja Nejus. Mereka bebas untuk menjalankan ibadahnya, dan bebas memilih menetap di Habsyi selamanya. Rupanya kebaikan hati Raja Nejus ini menjadikan marah orang kafir Quraisy. Dan orang-orang kafir Quraisy mengirim ‘Amr bin al-‘ash dan Abdullah bin Rabiah menghadap Raja Nejus untuk mengembalikan orang-orang islam. Melihat kesungguhan orang-orang Quraisy, Raja Nejus mengumpulkan orang-orang islam untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Dalam dialog ini Ja’far bin Abi Thalib bertindak sebagai wakil dan juru bicara. Setelah menerangkan dengan panjang lebar mengenai agama islam dan ajaran nabi Muhammad SAW, ternyata ajaranya tidak bertentangan dengan agama yang dianut raja najus, akhirnya ia faham dan meminta utusan tersebut kembali ke Makkah. Kemudian setelah itu, Raja Nejus akhirnya masuk islam.






6. Awal pecahnya perang
a.              Thalhah bin Abi Thalhah mengajak duel
Pasukan Thalhah bin Abi Thalhah menantang pasukan Rosulullah, siapakah yang berani masuk surga dengan pedangnya dan siapa yang dapat membawanya ke neraka dengan pedang mereka.
“Saya!” sahut Ali bin Abi Thalib dan langsung disambarnya kaki Thalhah hingga roboh dan dibabadnya tubuhnya hingga tewas.
b.              Dikira Nabi terbunuh
Dalam suasana kacau balau, tiba-tiba terdengar suara teriakan “Muhammad terbunuh!” dan memang Nabi terkena hantaman besinya menancap dan menembus bibir hingga sela-selanya.
c.               Pasukan pelindung Nabi
Pasukan kafir Mekkah beramai-ramai menyerbu ke arah Nabi berada, berusaha membunuhnya dengan tangan mereka. Tetapi, pahlawan muslimin banyak yang berani mati membela dan melindungi Nabi.
d.              Anas bin Nadhir mencium bau surga
Setelah mendengan kabar kematian Rosulullah, para sahabat kehilangan semangat. Untunglah, Anas memberi membangkitkan semangat para sahabat. Sambil menghunus pedangnya ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’az “ sungguh aku mencium bau surga dikaki Bukit Uhud ini”. Lalu ia pun kembali menyerbu pasukan musuh, tetapi ia sendiripun terkena lebih dari 70 bekas bacokan dan tusukan, hingga gugur sebagai syuhada.
e.              Ubaiy mencoba membunuh Nabi
Ubaiy bin Khalaf mencoba mengejar Nabi, tetapi Nabi dengan sigapnyamengambil lembing sahabatnya dan menusukkannya ketulang kunci leher Ubaiy sampai iapun terkapar dan tewas.
f.               Rosululah amat sedih dan marah
Setelah peperangan mereda, pasukan Muslim mengumpukan dan  mensholati jenazah para syuhada. Kemudian Rosulullah memeriksa satu persatu jenazah dan melihat jenazah Hamzah dalam keadaan perut terkoyak dan diambil jantungnya. Rosulullah sangat sedih melihat keadaan tersebut dan berucap” seumur hidupku belum pernah sesedih dan semarah ini. Demi sekiranya Allah nanti memberikan kemenangan kepada kita, mereka akan kuperlakukan menurut cara yang belum pernah diperbuat oleh Bangsa Arab”
g.              Wahyu penentram kalbu Rosul
Dengan keadaan seperti sedih dan marah, turunlah surat an nahl ayat 126
h.              Sikap penduduk Madinah
Sebagian penduduk Madinah bersedih hati karena mendengar berita kekalahan perang tersebut, tetapi sebagian yang lain seperti kaum Yahudi, Musyrikin, dan Munafikin bergembira dengan kekalahan itu. 
i.                Rosulullah mengadakan serangan balik
Rosulullah tak pernah merasa putus asa. Bahkan keesokan harinya telah disiapkan suatu pasukan dibawah komandonya sendiri berangkat mengejar pasukan Abu Sofyan. Karena Abu Sofyan mendapat laporan bahwa pasukannya dikejar oleh pasukan Muslimin, ia menjadi ketakutan dan was-was jika kalah tentu habislah riwayat kebanggaan Quraisy Mekkah. Sebaliknya, dengan siasat pengejaran itu bagi kaum Muslimin membawa pengaruh baik, membangkitkan kembali semangat juang mereka dan tidak merasa kalah total.  
C. Perang Khandaq ( Perang Akhzab )
1.              Sebab-sebab terjadinya perang
Ø   Penilaian Kaum Quraisy dan Yahudi tentang kekalahan Kaum Muslimin pada Peran Uhud, bahwa Kaum Muslimin akan binasa jika diserang sekali lagi.
Ø   Utusan Kaum Yahudi kepada kaum Quraisy di Mekkah mengajak untuk mengadakan serangan gabungan menumpas Kaum Muslimin dan Muhammad.
2.              Sebab dinamai Perang Khandaq atau Perang Akhzab
Dinamakan Perang Khandaq (parit), karena pada peperangan itu kaum Muslimin menggunakan pertahanan parit, yang mereka buat di batas kota Madinah sebelah Utara. Dinamakan juga perang Akhzab (golongan-golongan), karena pada perang tersebut golongan Yahudi, Quraisy Mekah, juga Bani Salim, Bani Asad, Ghatafan, Bani Murrah dan Asyja’, Bani Fazarah, dan Bani Asad bergabung bersama-sama memerangi Kaum Muslimin.
3.              Proses terjadinya perang
Utusan kaum Yahudi dan Bani Nadhir berunding dengan pimpinan suku Quraisy, meminta agar suku Quraisy bersedia memerangi kembali kaum Muslimin Madinah. Mereka berjanji menghimpun penduduk sekitar Mekkah untuk bergabung menjadi pasukan besar dalam menumpas Muhammmad.
4.              Persiapan dipihak Muslim
Setelah mendengar rencana penyerangan pasukan Akhzab, segeralah Nabi mengadakan musyawarah dengan para sahabat. Salman Farisi seorang sahabat yang berasal dari Persi mengusulkan agar kota Madinah dilindungi dengan parit (khandaq). Nabi menyetujui usulan itu dan segera memerintahkan kaum muslimin untuk bergotong-royong menggali parit. Setelah selesai penggalian parit dan persiapan lainnya selama 6 hari disiapkan pula pasukan Muslimin sebanyak 3000 orang.
5.              Proses penyerangan pasukan Akhzab
Pasukan akhzab membagi pasukan dalam tiga resimen. Resimen pertama dipimpin oleh Ibnu Al A’war As Sulami menempuh jurusan atas. Resimen kedua menempuh jalan rusuk samping dipimpin oleh ‘Uyainah bin Hishn. Sedangkan resimen ketiga dipimpin langsung oleh abu Sofyan menempuh jalan bagian tengah. Mereka dihadang dengan model peperangan yang belum pernah mereka alami sebelumnya yaitu parit. Dalam keadaaan seperti itu mereka hanya dapat membuat kemah-kemah darurat disebelah parit dan merasakan musim dingin yang sangat menggigit tulang mereka.
6.              Peperangan mulai berkecamuk
Bosan menunggu hari serangan seluruh pasukan, mereka saling berdebat dan mengancam saling membunuh. Malam harinya,laknat Allahpun tiba. Hujan turun amat derasnya, datang pula angin topan yang sangat kencang yang memporak-porandakan kemah-kemah mereka. Atap kemah, peruk, dan segala perlengkapan berterbangan ditiup angin. Pasukan akhzab menjadi kacau balau, badan mereka menggigil kedinginan, hati mereka kecut ketakukan. Akhirnya, Thulaihah bin Khuwailid dan Abu Sofyan memerintahkan untuk kembali ke kampung halaman mereka masing-masing.
7.              Perhitungan dengan Bani Quraizah
Setelah pasukan Akhzab kalah, kaum Muslimin segera membuat perhitungan dengan kaum Yahudi yang membangkitkan dan menyulut serta menggerakan terjadinya serangan gabungan Akhzab itu.
Perintah pengepungan
Kaum Muslimin merayakan kemenangan bukan dengan cara bersuka ria, tetapi Nabi menyiapkan pasukan untuk mengepung perkampungan Bani Quraizah. Perkampungan Bani Quraizah bagaikan benteng pertahanan. Sekeliling kampung itu diberi pagar. Di dalam perkampungan itupun ada benteng-benteng pertahanan.
Pengepungan itu terjadi selama 25 hari. Dalam masa pengepungan tak terjadi hal-hal penting, kecuali sekedar saling melempar batu. Setelah demikian lama mereka dikepung, terpikir oleh mereka bahwa cepat atau lambat mereka akan dibawah kekuasaan Muhammad. Oleh karena itu, mereka bermusyawarah meminta kaum Muslim dari bani Aus untuk mengabulkan permintaan mereka pindah dari perkampungannya ke Adzri’at, dan permintaan mereka disetujui Nabi Muhammad.
Nasib buruk menimpa Bani Quraizah
Bani Quraizah memilih Sa’ad bin Mu’adz pemuka dari Bani Aus yang pernah diutus nabi untuk menginsyafkan mereka agar tidak mengkhianati perjanjian mereka dengan kaum Muslimin. Sebelum Sa’ad menetapkan putusannya, dia terlebih dahulu meminta persetujuan kedua belah pihak bahwa mereka akan menerima segala keputusan yang akan ditetapkan nanti.
Sesudah hal itu diperoleh Sa’ad meminta agar :
·                Semua pasukan Yahudi berkumpul dan meletakan senjata. Dan keluarlah putusan kedua yang tak terduga oleh mereka.
·                Semua pasukan lelaki dewasa dihukum dibunuh, perempuan dan anak-anak menjadi tawanan.
Walaupun putusan itu sangat pahit, namun mereka sendiri menginsyafi akan besarnya kesalahan mereka terhadap Nabi dan umat Muslimin.
D.             Perjanjian Hudaibiyah
1.              Latar belakang perjanjian
Bagi kaum Muslimin, ka’bah dan masjidil haram memiliki arti yang besar, karena arah menghadap pada waktu shalat (qiblat) yang semula ke arah Masjidil Aqsha telah beralih ke arah Masjidil haram, kemudian turun pula ketetapan ibadah haji.
Oleh karena itu, Nabi menyatakan secara terbuka keinginannya untuk melakukan umrah dan mengumumkan kepada siapa saja boleh mengikutinya. Sambutan menggebu-gebu datang dari golongan muhajirin sedangkan golongan Anshor pada umumnya tidak ikut serta karena mereka memperkirakan kehadiran jamaah umrah akan diperangi oleh kaum Quraisy.
Namun, pada akhirnya terkumpul sekitar 1400 orang jamaah dan menempatkan pula hewan-hewan qurban pada barisan paling depan untuk memberi kesan bahwa yang datang bukanlah pasukan perang.
2.              Proses menuju tercapainya perjanjian Hudaibiyah
Pemimpin Quraisy yang telah dikuasai nafsu dengki dan congkak, maka biarpun semua utusannya telah memberikan kesaksian yang menguntungkan jamaah Rosulullah, tetapi tetap saja mereka keberatan Muhammad dan jamaahnya melakukan umrah tahun ini dan boleh melakukannya tahun depan.
3.              Nabi mengutus Ustman bin Affan
Rosululah merasa khawatir terhadap keberanian utusan kaum Quraisy dan menyampaikan harapannya kepada Ustman untuk menyampaikan hal-hal berikut:
·                Penyerangan terhadap jamaah Muhammad dibatalkan
·                Jamaah umrah Muhammad akan melakukan umrah pada tahun depan
·                Pihak Quraisy akan mengutus Suhail bin Amr untuk merundingkan hal itu dengan Muhammad
4.              Isi perjanjian Hudaibiyah
Isi perjanjian hudaibiyah terdiri dai 4 persoalan, yaitu:
1)             Persetujuan diadakannya gencatan senjata antara kaum Quraisy dan kaum muslimin, berlangsung selama 10 tahun.
2)             Kaum Quraisy yang menyeberang di daerah muslimin harus dikembalikan, sedangkan kaum muslimin yang menyeberang di daerah kaum Quraisy tidak boleh dikembalikan.
3)             Pada tahun ini, kaum Muslim tidak boleh berziarah ke Masjidil haram dan melaksanakan Umrah, dan boleh datang tahun berikutnya. Boleh memasuki Mekkah tetapi tanpa senjata.
4)             Masyarakat Arab selain suku Quraisy boleh memilih bergabung dengan Muhammad ataupun suku Quraisy.
5.              Sikap Nabi terhadap perjanjian Hudaibiyah
Tercapainya kesepakatan hudaibiyah ternyata membuat jamaah Muslim sangat kecewa. Tetapi, karena keteguhan sikap Rosulullah untuk tidak mau menyalahi perintah-Nya. Akhirnya kaum Muslimpun menerima perjanjian itu semata-mata karena ketaatan mereka kepada Rosulullah.
FATHUL MAKKAH
A.             Dorongan Membebaskan Makkah
Sesudah perjanjian Hudaibiyah, 2000 kaum Muslimin melakukan ziarah dan umrah ke Makkah sesuai isi perjanjian itu. Di bawah pimpinan Muhammad, mereka mengumandangkan kebesaran Allah, memuji keesaan-Nya, kemudian mereka akhiri dengan penyembelihan hewan qurban. Semua dilakukan mereka dengan khusu’ dan tawadhu’. Dan pemuka Quraisy, Khalid bin Walidpun akhirnya masuk islam.
Tetapi beberapa pimpinan yang lebih berkuasa atas suku Quraisy menginginkan untuk menghancurkan kaum Muslimin dan merusak perjanjian hudaibiyah. Tetapi Bani Khuza’ah melaporkan kepada Nabi tentang pengkhianatan kaum Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah. Oleh karena itu nabi merencanakan pembebasan Makkah dari kekuasaan kafir Quraisy.

B.             Kebijaksanaan Rosulullah dalam Membebaskan Makkah
1.              Menghindari pertumpahan darah
Nabi merancang perlawanan tanpa perlawanan karena kota yang akan dibebaskan adalah kota suci yang sudah disucikan sejak zaman Nabi Ibrahim.
2.              Proses pembebasan/penyerangan
Pasukan besar terhimpun dari Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah yang baru masuk islam dari utara dan barat Madinah mulai memasuki Mekkah tanpa sepengetahuan kaum Quraisy. Abbas orang Quraisy yang baru masuk islam menawarakn diri untuk menjadi perantara agar pihak Quraisy menyerah tanpa perlawanan. Nabipun menyetujuinya.
Tak lama kemudian Abu Sofyan bin Harist bin Abdul Mutholib juga menyatakan masuk islam, dan diperintahkan Rosulullah untuk menyampaikan kepada penduduk Makkah untuk masuk ke rumah Abu Sofyan, menutup pintunya, atau masuk ke masjid agar aman.
Rosulullah mengerakkan pasukannya dan memberikan perintah untuk tidak menumpahkan darah setetespun kecuali sangat terpaksa.
Kemudian pasukan dipusatkan di sekitar Ka’bah. Kaum Muslimin yang tertindas, yang selama ini tinggal di Makkah dengan cepat berhamburan menyambut kehadiran saudara mereka seagama datang dengan membawa kemenangan. Penduduk yang lain saling mengintip dari dalam rumah dan akhirnya keluar rumah karena tidak terjadi pertempuran apapun. Malah sebaliknya, Rosulullah memberi pengampunan umum bagi penduduk Makkah yang selama ini membencinya, memusuhinya, memfitnahnya, mengusirnya, mengucilkannya, bahkan hendak membunuhnya. Namun dengan kebesaran jiwanya malah Rosululah memberikan pengampunan umum, suatu sikap yang belum pernah dilakukan oleh raja-raja dan kaisar-kaisar sebelumnya.

HAJI WADA atau HAJI ISLAM
A.             Makna Haji Wada
Haji wada adalah ibadah haji yang dilakukan Rasulullah pada tahun ke 10 H dan mengerahkan seluruh kaum muslimin yang mencapai 100.000 orang sebagai haji terakhir (haji perpisahan) karena tidak lama setelah itu, Rasulullah meninggal.
Pada peristiwa itu, Allah menyatakan kesempurnaan Islam melalui wahyu terakhirnya yaitu QS. Al-maidah ayat 3.
Haji wada silakukan pada tanggal 25 Dzulqaidah oleh seluruh jamaah yang berangkat dari Madinah. Kemudian, setibanya di Dzulhulaifa mereka berganti dengan pakaian Ihram dan bergerak menuju Makkah dengan membaca kalimah talbiyah. Dalam membaca kalimah talbiyah, mereka meneteskan air mata karena suasana haru dalam mengingat para syuhada yang gugur dalam berperang.
B.              Pidato Haji Wada dan Tanda Berakhirnya Tugas Kenabian
Nabi mengatakan, “barangsiapa tidak membawa hewan ternak sebagai qurban, hendaknya meniatkan umrah, sedangkan yang membawa hewan ternak sebagai qurban hendaknya meniatkan haji.” Rasulullah berpidato untuk terakhir kalinya pada peristiwa itu. Inilah sari pidato tersebut:
1.              Beliau tidak dapat memastikan, apakah masih akan bertemu lagi pada tahun berikutnya.
2.              Bahwa menumpahkan darah (pembunuhan) dan mengganggu harta itu haram.
3.              Suami punya hak atas istri dan istri punya hak tas suami.
4.              Barang siapa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, tak akan sesat selama-lamanya.
5.              Tuhan hanyalah satu dan asal manusia juga satu, dari Adam. Adam dari tanah.
6.              Orang yang paling mulia di sisi Tuhan adalah yang paling taqwa. Tak ada kelebihan orang Arab lainnya kecuali taqwa.
Dalam menyampaikan pidatonya tersebut, Rasulullah meminta Rabi’ah bin Umayya bin Khalaf ntuk mengulanginya dengan suara yang lebih nyaring. Dan ketika Rasul membacakan wahyu terakhir (QS. Al-Maidah: 3), Abu Bakar menangis tersedu-sedu karena merasa itu adalah pertanda bahwa Rasul akan dipanggil Allah. Pada 3 bulan kemudian, Rasulullah wafat.
C.              Wafatnya Rasulullah
Dua bulan setengah setelah kembali dari haji, Rasulullah menderita sakit yang setiap hari semakin parah. Rasulullah merasa tidak mampu untuk menjadi imam shalat, kemudian meminta Abu Bakar untuk mengantikannya. Tepat pada tanggal 12 Rabiul Awwal hari Senin, beliau wafat dalam usia 63 tahun. Setelah itu, kaum muslimin mengangkat Abu Bakar untuk menjadi khalifah (pemimpin) mereka yang pertama.
D.             Faktor Pertumbuhan Peradaban Islam
Ajaran Islam yang memotivasi setiap orang ataupun masyarakat agar memiliki peradaban tinggi adalah:
1.              Islam sangat menghargai akal, meletakkan akal pada tempat terhormat, memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya untuk menganalisis keadaan Islam (QS. Al-Imron: 189-190)
2.              Islam mewajibkan setiap laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat (QS. Al-Mujadallah: 11)
3.              Islam melarang orang untuk bertaqlid buta, dengan menerima sesuatu tanpa menggunakan akal pikiran untuk menganalisis ataupun membuktikan kebenaran yang diterima. (QS. A-Isyra’: 36)
4.              Islam mengarahkan pemeluknya supaya senantiasa menggali segala sesuatu yang belum diungkapkan, melakukan inisiatif dan memberi manfaat bagi kemanusiaan.
5.              Islam memerintahkan setiap pemeluknya untuk mencari keridhoan Allah, dengan semua nikmat yang telah diterima dan menyuruh menggunakan hak-hak atas keduniaan untuk menegakkan ajaran (QS. Al-Qoshosh: 77)
6.              Islam mengajarkan bagi pemeluknya supaya melakukan pengembaraan untuk menjalin silaturrahim dan kerjasama dengan bangsa lain, untuk membangun peradaban yang tinggi yang menjamin kemaslahatan umat. (QS. Al-Hajj: 46)
7.              Islam menyuruh mengkaji kebenaran walaupun datangnya dari kaum yang berlainan agama dan suku bangsa. (QS. Thoha :17)
KHULAFAUR RASYIDDIN
A.   Terpilihnya Khulafaur Rasyiddin
Sewaktu nabi belum meninggal, beliau tidak berpesan mengenai siapa yang akan menggantikan nabi untuk memimpin kaum muslim. Itulah yang menjadi problema bagi kaum muslim pada saat itu.
Kemudian, ada golongan sahabat dari Anshar yang berkumpul di tempat Saqifah Bani Sa’idah, sebuah tempat yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan dan musyawarah penduduk kota Madinah. Pertemuan kali ini dipimpin oleh Saad bin Ubadah, tokoh terkemuka suku Khazraj.
Ia menyatakan bahwa kaum Anshar-lah yang pantas untuk memimpin kaum muslimin, dengan alasan kaum Anshar telah banyak membantu kaum Muhajjirin dari penindasan orang-orang kafir Quraisy. Setelah kaum Muhajjirin datang, mereka pun juga diajak untuk mengangkat dan membaiat Saad bin Ubadah untuk menjadi pemimpin. Namun, kaum Muhajjirin ang diwakili oleh Abu Bakar menolak dengan tegas. Alasannya, merekalah yang terlebih dulu memeluk ajaran Islam dengan perjuangan berat selama 13 tahun menyertai Nabi. Tentu saja dari segi kualitas kaum Muhajjirin adalah orang-orang yang pantas dan terbaik untuk menggantikan Nabi. Kemudian Abu Bakar mengusulkan agar memilih satu diantara Umar bin Khattab dan Ubaidah bin Jarrah sebagai khalifah. Namun Umar dan Ubaidah justru menolak. Keduanya justru memilih Abu Bakar dan dengan cepat mengangkat tangan Abu Bakar lalu membaiatnya.
             Inilah isi pidato Abu Bakar keesokan harinya. “Saudara-saudara, saya sudah dipilih untuk memimpin kalian sementara saya bukanlah orang terbaik diantara kalian. Jika saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan dan dusta merupakan pengkhianatan. Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. tetapi bila saya melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, maka gugurlah ketaatanmu kepada saya.”
             Pada saat khalifah Abu Bakar merasa dekat dengan ajalnya, ia menunjuk Umar bin Khattab untuk menggantinya. Ia memanggil Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Asid bin Hudhair Al-Anshari, Said bin Ziad dan sahabat lain dari golongan Muhajjirin dan Anshar untuk dimintai pertimbangan.
             Setelah Umar meninggal, khalifah dipegang Utsman bin Affan. Pada waktu Umar mengimami shalat subuh, ia ditikam oleh Lu’lu’ah namun tidak langsung meninggal. Ia membentuk dewan yang beranggotakan enam orang dan melalui sidang akhirnya terpilihlah Utsman bin Affan yang saat itu berusia 70 tahun.
             Setelah Utsman meninggal dalam sebuah kerusuhan terjadilah kekosongan kekuasaan, Ali bin Abi Thalib diusulkan oleh Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah untuk meggantikan Utsman. Akhirnya Ali menerima dan dibaiat menjadi khalifah di masjid tanggal 24 Juni 656 M.
B.    Usaha Perluasan Islam masa Khulafaur Rasyidin
             Ketika terjadi perang Tabuk pada tahun 9 H / 631 M dimana Kaisar Heraclius beserta sejumlah pasukan Arab yang tunduk dibawahnya melakukan konsolidasi kekuatan untuk menyerang kota Madinah, dan berusaha menghancurkan Islam. Pasukan Islam pun menyiapkan pasukan yang sangat besar jumlahnya, kurang lebih 300 ribu orang. Kaisar Heraclius merasa takut dan gentar, kemudian ia meminta perdamaian dan bersedia membayar pajak atau Jizyah.
             Ketika Abu Bakar menjabat sebagai Khalifah pertama, ia berusaha mewujudkan keinginan untuk memperluas wilayah Islam hingga ke Syria yang berada dibawah kekuasaan bangsa Romawi Timur dengan menugaskan empat orang panglima perang, yaitu:
-                 Yazid ibn Abi Sofyan (Damaskus)
-                 Abu Ubaidah ibn Jarrah (Homs)
-                 Amr ibn ‘Ash (Palestina)
-                 Surahbil ibn Hasanah (Yordania)
Usaha perluasan yang dipimpin oleh 4 orang panglima ini diperkuat lagi dengan datangnya pasukan Khalid bin Walid yang berjumlah 1500 orang, dan bantuan dari Mutsanna ibn Haritsah.
Di tengah berkecambuknya peran melawan tentara romawi timur ini, datang berita kewafatan Abu Bakar (13 H / 634 M). Selanjutnya, kedudukan ini digantikan oleh Umar.
Saat pemerintahan Umar, usaha ini terus dilanjutkan. Kemenangan dalam perang Yarmuk pada masa Abu Bakar membuka jalan bagi Umar untuk menggiatkan usahanya.
Khalifah Umar juga melanjutkan perluasannya ke Mesir. Saat itu bangsa Qibti sedang mendapat penganiyaan dari bangsa Romawi. Setelah berhasil menaklukan Syria dan Palestina, khalifah Umar memberangkatkan pasukannya menuju Mesir di bawah pimpinan Amr ibn Ash.
Diantara jasa Abu Bakar adalah membukukan Al-Qur’an menjadi satu mushaf dan memerangi kaum Murtad, hingga membasmi munculnya nabi-nabi palsu. Dan peninggalan Umar bin Khattab selama ia menjabat khalifah adalah menerbitkan pemerintahan dengan mengeluarkan Undang-Undang. Selain itu, Umar juga membentuk beberapa dewan dan membentuk urusan kehakiman dengan hakim yang masyhur saat itu adalah Ali bin Thalib.
Pada masa pemimpin Utsman, perluasan daerah tetap dilanjutkan. Dan lebih lencar lagi ketika dibangun armada laut. Dalam upaya pemantapan dan stabilitas daerah kekuasaan Islam di luar kota Madinah, Utsman melakukan pengamanan terhadap para pemberontak. Namun karena banyaknya unsur kekeluargaan dalam kepemimpinan khalifah Utsman pada paruh kedua dari pemerintahannya, sering terjadi pro dan kontra di kalangan kaum muslimin.
Sepeninggal khalifah Utsman, umat Islam yang pro dengan Ali kemudian mengangkat Ali sebagai Khalifah ke empat. pada masa Ali, timbul beberapa gerakan yang menentang pemerintahannya. Karena itu, selama pemerintahan beliau lebih menekankan kepada pembangunan dan ketertiban dalam negeri.
Dua macam kebijakan Khalifah Ali dalam rangka penertiban :
-                 Mengganti para wali di daerah-daerah yang diangkat Utsman bin Affan.
-                 Mencabut kembali tanah-tanah yang dibagikan oleh Khalifah Utsman.
Kebijakan Ali mengganti para wali itu menimbulkan akibat :
1.              Timbul tiga golongan di kalangan umat Islam, yaitu:
a.              Golongan Ali.
b.              Golongan Muawiyah, menghendaki Muawiyah sebagai Khalifah dengan dalih menuntut pembunuhan Utsman.
c.               Golongan Aisyah, Zubair dan Thalhah. Mereka tidak setuju dengan penuntutan pembunuhan Utsman, dan pengangkatan Ali sebagai Khalifah.
2.              Terjadinya perang Jamal (perang berunta)
3.              Adanya perselisihan Ali dengan Muawiyah, sehingga terjadi perang Shiffin.
Perang berunta terjadi tahun 36 H. Dinamai perang Unta karena panglimanya (Siti Aisyah) mengendarai unta. Pemimpin perang tersebut ialah Zubair, Thalhah, dan Siti Aisyah.
Sebab-sebab perang berunta :
1.              Mereka tidak setuju dengan pengangkatan Ali sebagai Khalifah.
2.              Mereka tidak setuju atas tindakan Ali mengadakan pergantian wali (gubernur) di beberapa daerah.
3.              Karena Ali tidak mau menuruti permintaan mereka untuk menghukum orang-orang yang tersangkut dalam pembunuhan Utsman bin Affan.
Perselisihan antara Ali dan Muawiyah mengakibatkan perang Shiffin, sebab-sebab perang Shiffin adalah :
1.              Muawiyah menuduh Ali tersangkut dalam pembunuhan Utsman bin Affan dan menuntutnya.
2.              Ali memecat muawiyah dari kepemimpinan sebagai wali di Syam.
3.              Muawiyah tidak menerima ajakan Ali untuk berdamai, dan lebih memilih perang.
             

Tidak ada komentar: