SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW
Makalah ini diajukan untuk
Memenuhi tugas SKI semester I
Tahun pelajaran 2013-2014
Disusun oleh :
Kelas XI IPA 6
1.
Mienchah
Al Chasna
2.
Radha
Faradhila
3.
Safira
Qisthina
4.
Suhaila
Zakiya N.
5.
Viky
Qurratul U.
KATA PENGANTAR
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas SKI kelas XI semester I. Makalah ini dapat
dijadikan sebagai panduan atau sumber belajar bagi siswa kelas XI yang tengah
mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam.
Makalah
ini disusun dan dikemas secara sistematis untuk memudahkan pembelajaran dalam
penguasaan materi Sejarah Kebudayaan Islam kelas XI semester I. Untuk itu,
makalah yang kami buat akan sangat membantu dalam proses pembelajaran.
Kami
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Namun,
kami berharap makalah ini dapat bermanfaat. Semoga keberhasilan selalu berpihak
kepada kita semua. Amin.
Penyusun
A.
LATAR BELAKANG
Di era
globalisasi banyak kaum Muslimin yang tidak mengetahui sejarah perjuangan Nabi
Muhammad dan Khulafaur Rasyidin dalam menyebarkan dan mempertahankan agama
Islam
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana dakwah Islam pada
periode Mekah?
2. Bagaiman dakwah Islam pada
periode Madinah?
3. Bagimana usaha Khulafaur
Rasyidin dalam perluasan agama Islam?
C.
TUJUAN
1.
Mengetahui dakwah Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama
Islam di Mekah
2.
Mengetahui dakwah Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama
Islam di Madinah
3.
Mengetahui usaha Khulafaur Rasyidin dalam perluasan agama
Islam
D.
PEMBAHASAN
1.
Peradaban Bangsa Arab
Sebelum peradaban Islam memecah di masyarakat Arab,
bangsa Arab sebenarnya telah mengenal kehidupan politik, sosial, ekonomi,
bahasa, seni, dan pengguna metode berpikir, meskipun masih sederhana. Dalam
bidang sosial, masyarakat Arab pada masa jahiliyah tidak memiliki sistem
pemerintahan yang mapan. Mereka hanya memiliki pemimpin yang disebut Syeikh
atau Amir.
Bagi masyarakat pedalaman, yaitu masyarakat Badui,
kehidupan sosial ekonomi mereka biasanya dilakukan melalui sector pertanian terutama
mereka yang mendiami daerah subur di sekitar Oase. Akan tetapi bagi masyarakat
Arab perkotaan, kehidupan sosial mereka di tentukan oleh keahlian dalam
perdagangan. Terdapat 2 musim dalam berdagang, saat musim panas berdagang ke
Negara Syam, saat musim dingin ke Negara Yaman. Di kota Makkah terdapat pusat
perdagangan, yang disebut Ukaz, yang di buka pada bulan Zulqo’dah, Zulhijjah,
dan Muharram.
2.
Agama dan Kepercayaan Bangsa Arab
Ajaran tauhid sudah tertanam di masyarakat Arab dan
ajaran Nabi Ibrahim a.s. lazim juga disebut ajaran agama Hanif artinya yang
benar dan lurus. Setelah berpuluh-puluh abad ajaran tersebut mengalami
perubahan, diputarbalikan, ditambah dan dikurangi oleh para pengikutnya yang
tidak bertanggung jawab yang kemudian
muncul berbagai ajaran yang meragukan.
Bangsa Arab mulai menyembah berhala ketika ka’bah berada
di bawah kekuasaan Jurhum. Pasukan yang dipimpin oleh Amr bin Lubayi dari
keturunan Khuza’ah yang datang ke Makkah yang kemudian berhasil mengalahkan
Jurhum. Kemudian Amr bin Lubayi meletakkan sebuah berhala besar yang bernama
Hubal yang terbuat dari batu akik merah yang berbentuk patung orang, yang
ditempatkan di sisi ka’bah, untuk disembah.
Sejak itulah bangsa Arab memulai menyembah berhala.
Ketika bangsa Quraisy berkuasa lagi di Hijaz, disekeliling ka’bah sudah penuh
dengan berhala yang berjumlah kurang lebih 360 buah, banyak macam berhala, a.
Lata di Thaif, b. Uzza di Hijaz sesudah hubal, c. Manah di Madinah, dan masih
banyak lagi (Asaf, Nailah, Wudd, Yaghuts, Suwa, Nashr, Ya’ng, Manaf). Berhala
ini bagi bangsa Arab merupakan perantaranya terhadap Tuhan. Sehingga pada
hakikatnya bukanlah berhala-berhala itu
yang mereka sembah namun hanya sebagai perantara. (QS. Al-Zumar ; 3).
3.
Keadaan sosial Budaya Bangsa Arab
Dalam bidang bahasa
dan seni bahasa, orang-orang Arab pada masa itu pra islamnya sudah sangat maju.
Bahasa mereka indah, dan syair mereka sangat banyak. Dalam lingkungan mereka
para syair sangat dihormati. Tiap tahun di Pasar Ukaz diadakan deklamasi sajak
yang sangat luas.
Salah satu kelaziman
bangsa Arab adalah mengadakan majelis atau nadwah sebagai sarana untuk
mendeklamasi sajak, bertanding pidato, tukar menukar berita. Seperti : Nadi
Quraisy dan darun Nadwah, yang berdiri disamping ka’bah sebagai nadwah mereka.
4.
Penghargaan Bangsa Arab Terhadap
Kaum Wanita
Moral bangsa Arab
pada masa jahiliyah umumnya sangat merosot, sehingga mencemarkan kehidupan
bangsa dan negara. Salah satu adat yang sangat jelek adalah ia mengubur anak
perempuan hidup-hidup. Perbuatan kejam dan biadab itu biasanya mereka lakukan
karena takut mendapat malu dan miskin. Mereka (laki-laki) juga memiliki
kebiasaan mengawini dan menceraikan kaum wanita sesuka mereka. Sehingga
timbulah perkawinan antara anak istri dan ayahnya tau ibu tirinya.
5.
Putra Dari dua Orang Yang Dikorbankan
Suku Quraisy ketika
itu membanggakan Abdul Muthalib, kakek Rasululloh SAW dengan keturunan dan
kekayaanya. Ketika itu, Abdul Muthalib bernazar seandainya Allah memberinya
rezeki sepuluh anak laki-laki, maka ia akan menyembelih seseorang dari mereka
untuk mendekatkan dirinya pada Tuhan. Keinginanya itu terpenuhi, ia dikaruniai
sepuluh orang anak laki-laki yang salah satunya bernama Abdullah, ayahanda
Rasulullah. Tak kala Abdul Muthalib hendak melaksanakan nazarnya. Orang-orang
mengahadangnya agar tidak menjadi tradisi lagi mereka. Setelah itu, mereka
bersepakat untuk mengundi nasib (dengan anak panah) antara Abdullah dan sepuluh
ekor unta. Kemudian mereka menambah unta saat anak panah undian berpihak pada unta yang telah mencapai
100 ekor unta. Akhirnya, mereka menyembelih unta-unta tersebut.
Ketika Abdullah
telah beranjak dewasa, ayahandanya memilihkanya
seorang gadis dari Bani Zuhrah yang bernama Aminah binti Wahab. Abdullah
telah menjalankan tugas dalam mengarungi bahtera dalam kehidupan ini, dan
setelah 3 bulan dari kehamilan Aminah yang mengandung Rasulullah, Abdullah
keluar kota bersama rombongan dagang ke negeri Syam. Dalam perjalan pulang, ia
menderita sakit keras sehingga ia menetap di Madinah dengan paman-pamanya yang
bernama Bani Najjar. Disinilah, akhirnya ajal menjemputnya dan di Madinah pula
Abdullah dikebumikan.
Masa-masa kehamilan
telah usai, hari melahirkan telah tampak. Namun, Aminah tidak merasakan sakit
yang biasa dirasakan oleh para wanita ketika melahirkan. Menjelang fajar,
tepatnya pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal 571 M, yang bertepatan dengan
kaum gajah, Aminah pun melahirkan anaknya.
6.
Kisah Pasukan Gajah
Ringkasan kisah
pasukan gajah adalah ketika Abrahah Al-Habsyi Gubernur Yaman melihat bangsa
Arab berbondong-bondong ke Mekkah untuk menunaikan haji. Maka ia membangun
gereja besar di San’a dan ia ingin mengalihkan bangsa Arab untuk menunaikan
ibadah haji di sana. Hal ini di dengar
oleh seseorang dari Bani Kinanah, salah satu suku Arab, lalu ia memasuki
gereja tersebut dan melumuri temboknya dengan kotoran.
Tatkala mengetahui
hal itu, Abrahah berkobar marah dan segera berangkat menuju ka’bah dengan
membawa pasukan yang berjumlah 60.000 personel untuk mengahancurkan ka’bah. Ia
memilih untuk dirinya seekor gajah yang sangat besar. Sementara pada pasukanya
terdapat 9 ekor gajah, ia melanjutkan perjalanan hingga hampir tiba di kota
mekkah. Disana pasukannya bersiap-siap untuk memasuki kota Mekkah , namun
gajah-gajah tersebut diam dan tidak mau beranjak maju ke ka’bah. Dan ketika
mereka mengarahkanya ke arah lain, gajah-gajah tersebut bangkit dan bergegas
melangkah. Namun saat mereka palingkan ke arah ka’bah lagi, gajah-gajah kembali
diam.
Ketika itulah, Allah
mengutus kepada mereka burung-burung ababil (yang berbondong-bondong) untuk
melempari mereka dengan batu yang berasal dari tanah yang terbakar, dan membuat
mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.
7.
Peristiwa Pembelahan Dada
Pada suatu hari,
ketika Muhammad mendekati usia 4 tahun, tepatnya di saat beliau bersama putra
Halimah bermain jauh dari perkemahan. Maka datanglah putra Halimah sambil
berlari, dan raut wajahnya sangat cemas. Ia meminta agar Halimah menyusul
saudaranya Muhammad, lalu Halimahpun menanyakan tentang permasalahanya.
Kemudian anak ini berkata “Sungguh saya melihat dua orang laki-laki berpakaian
putih, mereka mengambil Muhammad dari kami dan melentangkanya, lalu mereka
membelah dadanya”.
Namun, saat Halimah
mendatangi Rasulullah, dia melihat Muhammad berdiri ditempatnya tanpa bergerak,
wajahnya terlihat kekuning-kuningan dan pucat, lalu dengan rasa takut dan cemas
Halimah menanyakan tentang apa yang menimpanya. Lalu muhammad memberitahukan
bahwasanya dia dalam keadaan baik, dan menceritakan bahwa ada dua orang
laki-laki berpakaian putih yang mengambilnya, membelah dadanya untuk
mengeluarkan hatinya, lalu mengeluarkan segumpal darah hitam darinya, lalu
membuangnya. Lalu mencuci hatinya dengan air dingin dan mengembalikanya ke
rongga tubuh untuk kemudian mengusap dadanya. Dan kedua orang tersebut
menghilang. Halimah menceritakan hal tersebut pada Aminah.
Aminah keluar
bersama putranya untuk mengunjungi paman-pamanya dari Bani Najr dan
menetap beberapa hari disana. Dalam
perjalanan pulangnya, ajalpun menjemput Aminah, di tempat yang bernama Abwa,
dan di tempat itu pula ia dikebumikan. Lalu Muhammad di asuh oleh kakeknya yang
bernama Abdul Muthalib. Setelah genap umur 6 tahun, kakeknya meninggal. Lalu
Muhammad di asuh oleh pamanya yang bernama Abu Thalib. Beliau tumbuh atas dasar
kejujuran dan amanah. Maka orang-orang berkata : “Telah datang al-Amin” (orang
yang dapat di percaya), yang ditujukan pada Muhammad.
Saat Muhammad
beranjak dewasa, ia berpergian untuk mencari pekerjaan, ia bekerja sebagai
pengembala kambing. Kemudian Muhammad bergabung denan rombongan dagang ke
negeri Syam. Rombongan tersebut di biayai oleh Khadijah binti Khuwailid,
seorang yang terpandang sangat kaya. Dengan keberkahan Rasulullah, perdagangan
Khadijah mendapatkan laba yang belum pernah dialami sebelumnya. Lalu ia
bertanya pada Maisarah (pembantunya) perihal penyebab laba yang cukup besar
dari sebelumnya. Lalu Maisarah menceritakan tentang perbuatan Muhammad, dan
semenjak itulah Khadijah mulai kagum dengan Muhammad. Dan akhirnya Muhammad menikah dengan Khadijah di umur 25 tahun. Dan
memiliki 4 anak perempuan yang bernama
Zainab, Ruqayah, Ummu Kutsum dan Fatimah, dan 2 orang putra yang bernama
Qasim dab Abdullah yang meninggal dunia dimasa kecilnya.
8.
Kenabian
Menjelang usianya
yang berumur 40 tahun, Muhammad sering menyendiri dan berkhalwat di goa Hira,
yaitu Goa yang berasa di gunung yang terletak di dekat Mekkah. Di sanalah,
beliau menghabiskan waktu selama berhari-hari dan bermalam-malam. Pada malam ke
dua puluh dari bulan Ramadhan, yaitu ketika beliau berada di dalam goa Hira,
beliau di datangi malaikat Jibril yang seraya berkata “Bacalah!”, beliau
menjawab “aku tak dapat mebaca”, namun
Jibril mengulangi ucapan tersebut hingga ketiga kalinya, Jibril berkata
kepadanya (Q.S. Al-Alaq: 1-5)
Setelah itu, Jibrilpun
meninggalkanya, dan Rasulullah sudah tidak kuat lagi berada di goa Hira’.
Akhirnya beliau pulang kerumahnya dan menghampiri Khadijah dengan gemetar
sambil berkata “selimuti saya!”, “selimuti saya!”, maka Khadijahpun
menyelimutinya, lalu memberinya Khadijah apa yang telah terjadi. Beberapa hari
kemudian, beliau kembali ke goa Hira untuk melanjutkan ibadahnya yang tersisa
dalam bulan Ramadhan. Setelah bulan Ramadhan berakhir, beliau turun dari goa
Hira dan kembali ke Mekkah, ketika sampai di tengah lembah, Jibril mendatangi
sambil duduk diatas kursi antara bumi dan langit.
Setelah itu, wahyu
pun turun terus menerus dan berkelanjutan. Nabi memulai dakwahnya, Khadijah masuk islam dan bersaksi atas keesaan Allah dan
kenabian suaminya yang mulia. Sehingga ia adalah
orang yang pertama masuk islam. Kemudian, sebagai balas budi pamannya, Abu Thalib yang
mengasuh dan menjaga sejak kepergian ibu dan
kakeknya, Rasulullah memilih Ali dari sekian banyak putra tersebut, untuk dididik di sisinya dan ditanggung nafkahnya. Dalam kondisi seperti ini, hati Ali pun terbuka, dan akhirnya masuk islam.
Selanjutnya, Rasul dakwah
secara sembunyi-sembunyi. Dikatakan
sembunyi-sembunyi disini, mengingat tempat para sahabat, pengikutnya,
dan orang-orang yang mereka ajak
masuk islam tersebut bersifat sangat rahasia.
9.
Dakwah Secara Terang-Terangan
Setelah Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun lamanya, lalu Allah menurunkan ayat :
Artinya :Maka sampaikanlah olehmu
secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyirk. (QS. AL_Hijr: 94)
Pada suatu hari Rasulullah berdiri diatas bukit Shafa memanggil kaum Quraisy, hingga orang-orangpun mengerumuninya. Diantara mereka, terdapat
pamanya, Abu Lahab, seorang tokoh Quraisy yang paling memusuhi Allah dan Rasul-nya. Tatkala orang-orang telah berkumpul,
beliau bersabda : “bagaimana
pendapat kalian, seandainya saya memberitahu kalian bahwa di balik gunung ini ada musuh
yang menanti kalian, apakah kalian mempercayai saya ?”mereka menjawab
“yang terlintas di hati kami tentang anda adalah kejujuran dan amanah”, beliau lalu bersabda : “saya adalah
orang yang member peringatan
kepada kalian bahwa dihadapan kalian ada siksa yang maha berat”. Kemudian Rasulullah
mengajak mereka untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala.
Abu lahab langsung keluar dari kerumunan orang-orang dan berkata :TabbanLaka, Alihadza da’awtana ? “Celakalah
kamu!, apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami ?”, setelah kejadian itu Allah menurunkan QS. AL-Lahab.
Nabi tetap melanjutkan dakwahnya
dan memulai secara terang-terangan di tempat-tempat mereka berkumpul, dan mengajak
mereka masuk agama islam, bahkan beliau
melakukan shalat disisi ka’bah. Sementara itu penyiksaan
orang-orang kafir terhadap kaum mukminin semakin bertambah,
sebagaimana yang dialami Yazir
dan Sumaiyah yang akhirnya mati
syahid. Sumaiyah adalah wanita pertama dalam islam yang mati syahid disebabkan oleh penyiksaan.
Bilal masuk islam melalui perantara Abu
Bakar. Suatu ketika Umayyah memergokinya, lalu ia pun
menimpakan berbagai macam siksaan agar Bilal mau meninggalkan
islam. Namun Bilal tetap menolak, dan tetap berpegangteguh
terhadap Islam. Lalu Umayyah membawa Bilal keluar kota Mekkah dalam keadaan terikat rantai. Setelah tubuhnya ditelantangkan
diatas pasir yang membara, diletakan batu besar diatas dadanya, untuk kemudian
Umayyah beserta para pengikutnya menghujaninya dengan
cambukan. Bilal hanya mengucapkan Ahad (Yang MahaEsa), hingga
akhirnya abu bakar melihatnya, dan membelinya lalu membebaskanya di jalan allah.
10.
HijrahkeHabasyi I dan II
Berkenaan dengan terus-menerusnya siksaan kaum musyrikin kepada orang-orang yang masuk islam, terutama orang-orang lemah, Rasulullah meminta sahabatnya untuk hijrah ke Habasyi demi
menyelamatkan agama mereka di sisi raja Najasyi yang akan menjamin keamanan mereka, terutama
keaamanan sebagian besar kaum muslimin.
Lalu berhijrahlah serombongan kaum muslimin yang
berjumlah kurang lebih 70 orang beserta keluarga mereka keHabasyi. Kedatangan mereka di habasyi di sambut dengan baik oleh Raja Nejus. Bahkan
ia memberikan perlindungan,
dan mempersilahkan untuk beribadah.
Hijrah ke Habsyi yang pertama hanya 2 bulan, kemudian mereka kembali ke Mekkah, keberhasilan umat islam untuk mendapatkan perlindungan di habsyi serta
semakin banyak orang-orang Makkah masuk
islam, kafir Quraisy semakin geram. Mereka
semakin kuat menekan dan menganiaya
orang islam. Dalam kondisi itulah Nabi Muhammad SAW, mengusulkan kembali kepada umat islam agar hijrah kembali
ke Habsyi. Hijrah yang kedua diikuti
oleh 101 orang, diantarannya terdapat 18 orang wanita yang di pimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib.
Kepergian orang-orang islam yang kedua ini ke Habsyi juga disambut hangat oleh Raja Nejus. Mereka bebas untuk menjalankan ibadahnya, dan bebas memilih menetap di Habsyi
selamanya. Rupanya kebaikan hati Raja Nejus ini menjadikan marah orang kafir Quraisy. Dan orang-orang kafir Quraisy mengirim ‘Amr bin al-‘ash dan Abdullah bin Rabiah menghadap Raja Nejus untuk mengembalikan
orang-orang islam. Melihat kesungguhan
orang-orang Quraisy, Raja Nejus mengumpulkan
orang-orang islam untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
Dalam dialog ini Ja’far bin Abi
Thalib bertindak sebagai wakil dan juru bicara. Setelah menerangkan dengan panjang lebar mengenai agama islam dan ajaran
nabi Muhammad SAW, ternyata ajaranya tidak bertentangan dengan agama yang dianut raja najus, akhirnya
ia faham dan meminta utusan tersebut kembali ke Makkah. Kemudian setelah itu, Raja Nejus akhirnya masuk islam.
6. Awal pecahnya perang
a.
Thalhah bin Abi Thalhah mengajak duel
Pasukan Thalhah bin
Abi Thalhah menantang pasukan Rosulullah, siapakah yang berani masuk surga
dengan pedangnya dan siapa yang dapat membawanya ke neraka dengan pedang
mereka.
“Saya!” sahut Ali
bin Abi Thalib dan langsung disambarnya kaki Thalhah hingga roboh dan
dibabadnya tubuhnya hingga tewas.
b.
Dikira Nabi terbunuh
Dalam suasana kacau
balau, tiba-tiba terdengar suara teriakan “Muhammad terbunuh!” dan memang Nabi
terkena hantaman besinya menancap dan menembus bibir hingga sela-selanya.
c.
Pasukan pelindung Nabi
Pasukan kafir Mekkah
beramai-ramai menyerbu ke arah Nabi berada, berusaha membunuhnya dengan tangan
mereka. Tetapi, pahlawan muslimin banyak yang berani mati membela dan
melindungi Nabi.
d.
Anas bin Nadhir mencium bau surga
Setelah mendengan
kabar kematian Rosulullah, para sahabat kehilangan semangat. Untunglah, Anas
memberi membangkitkan semangat para sahabat. Sambil menghunus pedangnya ia
berkata kepada Sa’ad bin Mu’az “ sungguh aku mencium bau surga dikaki Bukit
Uhud ini”. Lalu ia pun kembali menyerbu pasukan musuh, tetapi ia sendiripun
terkena lebih dari 70 bekas bacokan dan tusukan, hingga gugur sebagai syuhada.
e.
Ubaiy mencoba membunuh Nabi
Ubaiy bin Khalaf
mencoba mengejar Nabi, tetapi Nabi dengan sigapnyamengambil lembing sahabatnya
dan menusukkannya ketulang kunci leher Ubaiy sampai iapun terkapar dan tewas.
f.
Rosululah amat sedih dan marah
Setelah peperangan
mereda, pasukan Muslim mengumpukan dan
mensholati jenazah para syuhada. Kemudian Rosulullah memeriksa satu
persatu jenazah dan melihat jenazah Hamzah dalam keadaan perut terkoyak dan
diambil jantungnya. Rosulullah sangat sedih melihat keadaan tersebut dan
berucap” seumur hidupku belum pernah sesedih dan semarah ini. Demi sekiranya
Allah nanti memberikan kemenangan kepada kita, mereka akan kuperlakukan menurut
cara yang belum pernah diperbuat oleh Bangsa Arab”
g.
Wahyu penentram kalbu Rosul
Dengan keadaan
seperti sedih dan marah, turunlah surat an nahl ayat 126
h.
Sikap penduduk Madinah
Sebagian penduduk
Madinah bersedih hati karena mendengar berita kekalahan perang tersebut, tetapi
sebagian yang lain seperti kaum Yahudi, Musyrikin, dan Munafikin bergembira
dengan kekalahan itu.
i.
Rosulullah mengadakan serangan balik
Rosulullah tak pernah
merasa putus asa. Bahkan keesokan harinya telah disiapkan suatu pasukan dibawah
komandonya sendiri berangkat mengejar pasukan Abu Sofyan. Karena Abu Sofyan
mendapat laporan bahwa pasukannya dikejar oleh pasukan Muslimin, ia menjadi ketakutan
dan was-was jika kalah tentu habislah riwayat kebanggaan Quraisy Mekkah.
Sebaliknya, dengan siasat pengejaran itu bagi kaum Muslimin membawa pengaruh
baik, membangkitkan kembali semangat juang mereka dan tidak merasa kalah total.
C. Perang Khandaq
( Perang Akhzab )
1.
Sebab-sebab terjadinya perang
Ø Penilaian Kaum Quraisy dan Yahudi tentang kekalahan Kaum Muslimin pada
Peran Uhud, bahwa Kaum Muslimin akan binasa jika diserang sekali lagi.
Ø Utusan Kaum Yahudi kepada kaum Quraisy di Mekkah mengajak untuk
mengadakan serangan gabungan menumpas Kaum Muslimin dan Muhammad.
2.
Sebab dinamai Perang Khandaq atau Perang Akhzab
Dinamakan Perang
Khandaq (parit), karena pada peperangan itu kaum Muslimin menggunakan
pertahanan parit, yang mereka buat di batas kota Madinah sebelah Utara.
Dinamakan juga perang Akhzab (golongan-golongan), karena pada perang tersebut
golongan Yahudi, Quraisy Mekah, juga Bani Salim, Bani Asad, Ghatafan, Bani
Murrah dan Asyja’, Bani Fazarah, dan Bani Asad bergabung bersama-sama memerangi
Kaum Muslimin.
3.
Proses terjadinya perang
Utusan kaum Yahudi
dan Bani Nadhir berunding dengan pimpinan suku Quraisy, meminta agar suku
Quraisy bersedia memerangi kembali kaum Muslimin Madinah. Mereka berjanji
menghimpun penduduk sekitar Mekkah untuk bergabung menjadi pasukan besar dalam
menumpas Muhammmad.
4.
Persiapan dipihak Muslim
Setelah mendengar
rencana penyerangan pasukan Akhzab, segeralah Nabi mengadakan musyawarah dengan
para sahabat. Salman Farisi seorang sahabat yang berasal dari Persi mengusulkan
agar kota Madinah dilindungi dengan parit (khandaq). Nabi menyetujui usulan itu
dan segera memerintahkan kaum muslimin untuk bergotong-royong menggali parit.
Setelah selesai penggalian parit dan persiapan lainnya selama 6 hari disiapkan
pula pasukan Muslimin sebanyak 3000 orang.
5.
Proses penyerangan pasukan Akhzab
Pasukan akhzab
membagi pasukan dalam tiga resimen. Resimen pertama dipimpin oleh Ibnu Al A’war
As Sulami menempuh jurusan atas. Resimen kedua menempuh jalan rusuk samping
dipimpin oleh ‘Uyainah bin Hishn. Sedangkan resimen ketiga dipimpin langsung
oleh abu Sofyan menempuh jalan bagian tengah. Mereka dihadang dengan model
peperangan yang belum pernah mereka alami sebelumnya yaitu parit. Dalam
keadaaan seperti itu mereka hanya dapat membuat kemah-kemah darurat disebelah
parit dan merasakan musim dingin yang sangat menggigit tulang mereka.
6.
Peperangan mulai berkecamuk
Bosan menunggu hari
serangan seluruh pasukan, mereka saling berdebat dan mengancam saling membunuh.
Malam harinya,laknat Allahpun tiba. Hujan turun amat derasnya, datang pula
angin topan yang sangat kencang yang memporak-porandakan kemah-kemah mereka.
Atap kemah, peruk, dan segala perlengkapan berterbangan ditiup angin. Pasukan
akhzab menjadi kacau balau, badan mereka menggigil kedinginan, hati mereka
kecut ketakukan. Akhirnya, Thulaihah bin Khuwailid dan Abu Sofyan memerintahkan
untuk kembali ke kampung halaman mereka masing-masing.
7.
Perhitungan dengan Bani Quraizah
Setelah pasukan
Akhzab kalah, kaum Muslimin segera membuat perhitungan dengan kaum Yahudi yang
membangkitkan dan menyulut serta menggerakan terjadinya serangan gabungan
Akhzab itu.
Perintah
pengepungan
Kaum Muslimin
merayakan kemenangan bukan dengan cara bersuka ria, tetapi Nabi menyiapkan
pasukan untuk mengepung perkampungan Bani Quraizah. Perkampungan Bani Quraizah
bagaikan benteng pertahanan. Sekeliling kampung itu diberi pagar. Di dalam
perkampungan itupun ada benteng-benteng pertahanan.
Pengepungan itu
terjadi selama 25 hari. Dalam masa pengepungan tak terjadi hal-hal penting, kecuali
sekedar saling melempar batu. Setelah demikian lama mereka dikepung, terpikir
oleh mereka bahwa cepat atau lambat mereka akan dibawah kekuasaan Muhammad.
Oleh karena itu, mereka bermusyawarah meminta kaum Muslim dari bani Aus untuk
mengabulkan permintaan mereka pindah dari perkampungannya ke Adzri’at, dan
permintaan mereka disetujui Nabi Muhammad.
Nasib buruk
menimpa Bani Quraizah
Bani Quraizah
memilih Sa’ad bin Mu’adz pemuka dari Bani Aus yang pernah diutus nabi untuk
menginsyafkan mereka agar tidak mengkhianati perjanjian mereka dengan kaum
Muslimin. Sebelum Sa’ad menetapkan putusannya, dia terlebih dahulu meminta
persetujuan kedua belah pihak bahwa mereka akan menerima segala keputusan yang
akan ditetapkan nanti.
Sesudah hal itu
diperoleh Sa’ad meminta agar :
·
Semua pasukan Yahudi berkumpul dan
meletakan senjata. Dan keluarlah putusan kedua yang tak terduga oleh mereka.
·
Semua pasukan lelaki dewasa
dihukum dibunuh, perempuan dan anak-anak menjadi tawanan.
Walaupun putusan itu
sangat pahit, namun mereka sendiri menginsyafi akan besarnya kesalahan mereka
terhadap Nabi dan umat Muslimin.
D.
Perjanjian Hudaibiyah
1.
Latar belakang perjanjian
Bagi kaum Muslimin,
ka’bah dan masjidil haram memiliki arti yang besar, karena arah menghadap pada
waktu shalat (qiblat) yang semula ke arah Masjidil Aqsha telah beralih ke arah
Masjidil haram, kemudian turun pula ketetapan ibadah haji.
Oleh karena itu,
Nabi menyatakan secara terbuka keinginannya untuk melakukan umrah dan
mengumumkan kepada siapa saja boleh mengikutinya. Sambutan menggebu-gebu datang
dari golongan muhajirin sedangkan golongan Anshor pada umumnya tidak ikut serta
karena mereka memperkirakan kehadiran jamaah umrah akan diperangi oleh kaum
Quraisy.
Namun, pada akhirnya
terkumpul sekitar 1400 orang jamaah dan menempatkan pula hewan-hewan qurban
pada barisan paling depan untuk memberi kesan bahwa yang datang bukanlah
pasukan perang.
2.
Proses menuju tercapainya perjanjian Hudaibiyah
Pemimpin Quraisy
yang telah dikuasai nafsu dengki dan congkak, maka biarpun semua utusannya
telah memberikan kesaksian yang menguntungkan jamaah Rosulullah, tetapi tetap
saja mereka keberatan Muhammad dan jamaahnya melakukan umrah tahun ini dan
boleh melakukannya tahun depan.
3.
Nabi mengutus Ustman bin Affan
Rosululah merasa
khawatir terhadap keberanian utusan kaum Quraisy dan menyampaikan harapannya
kepada Ustman untuk menyampaikan hal-hal berikut:
·
Penyerangan terhadap jamaah
Muhammad dibatalkan
·
Jamaah umrah Muhammad akan
melakukan umrah pada tahun depan
·
Pihak Quraisy akan mengutus Suhail
bin Amr untuk merundingkan hal itu dengan Muhammad
4.
Isi perjanjian Hudaibiyah
Isi perjanjian
hudaibiyah terdiri dai 4 persoalan, yaitu:
1)
Persetujuan diadakannya gencatan
senjata antara kaum Quraisy dan kaum muslimin, berlangsung selama 10 tahun.
2)
Kaum Quraisy yang menyeberang di
daerah muslimin harus dikembalikan, sedangkan kaum muslimin yang menyeberang di
daerah kaum Quraisy tidak boleh dikembalikan.
3)
Pada tahun ini, kaum Muslim tidak
boleh berziarah ke Masjidil haram dan melaksanakan Umrah, dan boleh datang
tahun berikutnya. Boleh memasuki Mekkah tetapi tanpa senjata.
4)
Masyarakat Arab selain suku
Quraisy boleh memilih bergabung dengan Muhammad ataupun suku Quraisy.
5.
Sikap Nabi terhadap perjanjian Hudaibiyah
Tercapainya
kesepakatan hudaibiyah ternyata membuat jamaah Muslim sangat kecewa. Tetapi,
karena keteguhan sikap Rosulullah untuk tidak mau menyalahi perintah-Nya.
Akhirnya kaum Muslimpun menerima perjanjian itu semata-mata karena ketaatan
mereka kepada Rosulullah.
FATHUL MAKKAH
A.
Dorongan Membebaskan Makkah
Sesudah
perjanjian Hudaibiyah, 2000 kaum Muslimin melakukan ziarah dan umrah ke Makkah
sesuai isi perjanjian itu. Di bawah pimpinan Muhammad, mereka mengumandangkan
kebesaran Allah, memuji keesaan-Nya, kemudian mereka akhiri dengan
penyembelihan hewan qurban. Semua dilakukan mereka dengan khusu’ dan tawadhu’.
Dan pemuka Quraisy, Khalid bin Walidpun akhirnya masuk islam.
Tetapi
beberapa pimpinan yang lebih berkuasa atas suku Quraisy menginginkan untuk
menghancurkan kaum Muslimin dan merusak perjanjian hudaibiyah. Tetapi Bani
Khuza’ah melaporkan kepada Nabi tentang pengkhianatan kaum Quraisy terhadap
perjanjian Hudaibiyah. Oleh karena itu nabi merencanakan pembebasan Makkah dari
kekuasaan kafir Quraisy.
B.
Kebijaksanaan Rosulullah dalam Membebaskan Makkah
1.
Menghindari pertumpahan darah
Nabi
merancang perlawanan tanpa perlawanan karena kota yang akan dibebaskan adalah
kota suci yang sudah disucikan sejak zaman Nabi Ibrahim.
2.
Proses pembebasan/penyerangan
Pasukan
besar terhimpun dari Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah yang baru masuk
islam dari utara dan barat Madinah mulai memasuki Mekkah tanpa sepengetahuan
kaum Quraisy. Abbas orang Quraisy yang baru masuk islam menawarakn diri untuk
menjadi perantara agar pihak Quraisy menyerah tanpa perlawanan. Nabipun menyetujuinya.
Tak
lama kemudian Abu Sofyan bin Harist bin Abdul Mutholib juga menyatakan masuk
islam, dan diperintahkan Rosulullah untuk menyampaikan kepada penduduk Makkah
untuk masuk ke rumah Abu Sofyan, menutup pintunya, atau masuk ke masjid agar
aman.
Rosulullah
mengerakkan pasukannya dan memberikan perintah untuk tidak menumpahkan darah
setetespun kecuali sangat terpaksa.
Kemudian
pasukan dipusatkan di sekitar Ka’bah. Kaum Muslimin yang tertindas, yang selama
ini tinggal di Makkah dengan cepat berhamburan menyambut kehadiran saudara
mereka seagama datang dengan membawa kemenangan. Penduduk yang lain saling
mengintip dari dalam rumah dan akhirnya keluar rumah karena tidak terjadi
pertempuran apapun. Malah sebaliknya, Rosulullah memberi pengampunan umum bagi
penduduk Makkah yang selama ini membencinya, memusuhinya, memfitnahnya,
mengusirnya, mengucilkannya, bahkan hendak membunuhnya. Namun dengan kebesaran
jiwanya malah Rosululah memberikan pengampunan umum, suatu sikap yang belum
pernah dilakukan oleh raja-raja dan kaisar-kaisar sebelumnya.
HAJI WADA atau HAJI ISLAM
A.
Makna
Haji Wada
Haji wada adalah ibadah haji yang dilakukan
Rasulullah pada tahun ke 10 H dan mengerahkan seluruh kaum muslimin yang
mencapai 100.000 orang sebagai haji terakhir (haji perpisahan) karena tidak
lama setelah itu, Rasulullah meninggal.
Pada peristiwa itu, Allah menyatakan kesempurnaan Islam melalui
wahyu terakhirnya yaitu QS. Al-maidah ayat 3.
Haji wada silakukan pada tanggal 25 Dzulqaidah oleh seluruh jamaah
yang berangkat dari Madinah. Kemudian, setibanya di Dzulhulaifa mereka berganti
dengan pakaian Ihram dan bergerak menuju Makkah dengan membaca kalimah
talbiyah. Dalam membaca kalimah talbiyah, mereka meneteskan air mata karena
suasana haru dalam mengingat para syuhada yang gugur dalam berperang.
B.
Pidato
Haji Wada dan Tanda Berakhirnya Tugas Kenabian
Nabi mengatakan, “barangsiapa tidak
membawa hewan ternak sebagai qurban, hendaknya meniatkan umrah, sedangkan yang
membawa hewan ternak sebagai qurban hendaknya meniatkan haji.” Rasulullah
berpidato untuk terakhir kalinya pada peristiwa itu. Inilah sari pidato
tersebut:
1.
Beliau tidak dapat memastikan, apakah masih
akan bertemu lagi pada tahun berikutnya.
2.
Bahwa menumpahkan darah (pembunuhan) dan
mengganggu harta itu haram.
3.
Suami punya hak atas istri dan istri punya hak
tas suami.
4.
Barang siapa berpegang teguh pada Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul, tak akan sesat selama-lamanya.
5.
Tuhan hanyalah satu dan asal manusia juga
satu, dari Adam. Adam dari tanah.
6.
Orang yang paling mulia di sisi Tuhan adalah
yang paling taqwa. Tak ada kelebihan orang Arab lainnya kecuali taqwa.
Dalam menyampaikan pidatonya tersebut, Rasulullah meminta Rabi’ah
bin Umayya bin Khalaf ntuk mengulanginya dengan suara yang lebih nyaring. Dan
ketika Rasul membacakan wahyu terakhir (QS. Al-Maidah: 3), Abu Bakar menangis
tersedu-sedu karena merasa itu adalah pertanda bahwa Rasul akan dipanggil
Allah. Pada 3 bulan kemudian, Rasulullah wafat.
C.
Wafatnya
Rasulullah
Dua bulan setengah setelah kembali dari haji, Rasulullah menderita
sakit yang setiap hari semakin parah. Rasulullah merasa tidak mampu untuk
menjadi imam shalat, kemudian meminta Abu Bakar untuk mengantikannya. Tepat
pada tanggal 12 Rabiul Awwal hari Senin, beliau wafat dalam usia 63 tahun.
Setelah itu, kaum muslimin mengangkat Abu Bakar untuk menjadi khalifah
(pemimpin) mereka yang pertama.
D.
Faktor
Pertumbuhan Peradaban Islam
Ajaran
Islam yang memotivasi setiap orang ataupun masyarakat agar memiliki peradaban
tinggi adalah:
1.
Islam sangat menghargai akal, meletakkan akal
pada tempat terhormat, memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya untuk
menganalisis keadaan Islam (QS. Al-Imron: 189-190)
2.
Islam mewajibkan setiap laki-laki maupun
perempuan untuk menuntut ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat
(QS. Al-Mujadallah: 11)
3.
Islam melarang orang untuk bertaqlid buta,
dengan menerima sesuatu tanpa menggunakan akal pikiran untuk menganalisis
ataupun membuktikan kebenaran yang diterima. (QS. A-Isyra’: 36)
4.
Islam mengarahkan pemeluknya supaya senantiasa
menggali segala sesuatu yang belum diungkapkan, melakukan inisiatif dan memberi
manfaat bagi kemanusiaan.
5.
Islam memerintahkan setiap pemeluknya untuk
mencari keridhoan Allah, dengan semua nikmat yang telah diterima dan menyuruh
menggunakan hak-hak atas keduniaan untuk menegakkan ajaran (QS. Al-Qoshosh: 77)
6.
Islam mengajarkan bagi pemeluknya supaya
melakukan pengembaraan untuk menjalin silaturrahim dan kerjasama dengan bangsa
lain, untuk membangun peradaban yang tinggi yang menjamin kemaslahatan umat.
(QS. Al-Hajj: 46)
7.
Islam menyuruh mengkaji kebenaran walaupun
datangnya dari kaum yang berlainan agama dan suku bangsa. (QS. Thoha :17)
KHULAFAUR
RASYIDDIN
A. Terpilihnya Khulafaur Rasyiddin
Sewaktu nabi belum meninggal, beliau tidak
berpesan mengenai siapa yang akan menggantikan nabi untuk memimpin kaum muslim.
Itulah yang menjadi problema bagi kaum muslim pada saat itu.
Kemudian,
ada golongan sahabat dari Anshar yang berkumpul di tempat Saqifah Bani Sa’idah,
sebuah tempat yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan dan musyawarah
penduduk kota Madinah. Pertemuan kali ini dipimpin oleh Saad bin Ubadah, tokoh
terkemuka suku Khazraj.
Ia menyatakan bahwa kaum Anshar-lah yang pantas untuk memimpin
kaum muslimin, dengan alasan kaum Anshar telah banyak membantu kaum Muhajjirin
dari penindasan orang-orang kafir Quraisy. Setelah kaum Muhajjirin datang,
mereka pun juga diajak untuk mengangkat dan membaiat Saad bin Ubadah untuk
menjadi pemimpin. Namun, kaum Muhajjirin ang diwakili oleh Abu Bakar menolak
dengan tegas. Alasannya, merekalah yang terlebih dulu memeluk ajaran Islam
dengan perjuangan berat selama 13 tahun menyertai Nabi. Tentu saja dari segi
kualitas kaum Muhajjirin adalah orang-orang yang pantas dan terbaik untuk
menggantikan Nabi. Kemudian Abu Bakar mengusulkan agar memilih satu diantara
Umar bin Khattab dan Ubaidah bin Jarrah sebagai khalifah. Namun Umar dan
Ubaidah justru menolak. Keduanya justru memilih Abu Bakar dan dengan cepat
mengangkat tangan Abu Bakar lalu membaiatnya.
Inilah isi
pidato Abu Bakar keesokan harinya. “Saudara-saudara,
saya sudah dipilih untuk memimpin kalian sementara saya bukanlah orang terbaik
diantara kalian. Jika saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu
kepercayaan dan dusta merupakan pengkhianatan. Taatilah saya selama saya taat kepada
Allah dan Rasul-Nya. tetapi bila saya melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya,
maka gugurlah ketaatanmu kepada saya.”
Pada
saat khalifah Abu Bakar merasa dekat dengan ajalnya, ia menunjuk Umar bin
Khattab untuk menggantinya. Ia memanggil Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan,
Asid bin Hudhair Al-Anshari, Said bin Ziad dan sahabat lain dari golongan
Muhajjirin dan Anshar untuk dimintai pertimbangan.
Setelah Umar
meninggal, khalifah dipegang Utsman bin Affan. Pada waktu Umar mengimami shalat
subuh, ia ditikam oleh Lu’lu’ah namun tidak langsung meninggal. Ia membentuk
dewan yang beranggotakan enam orang dan melalui sidang akhirnya terpilihlah
Utsman bin Affan yang saat itu berusia 70 tahun.
Setelah Utsman
meninggal dalam sebuah kerusuhan terjadilah kekosongan kekuasaan, Ali bin Abi
Thalib diusulkan oleh Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah untuk
meggantikan Utsman. Akhirnya Ali menerima dan dibaiat menjadi khalifah di
masjid tanggal 24 Juni 656 M.
B. Usaha Perluasan Islam masa Khulafaur
Rasyidin
Ketika
terjadi perang Tabuk pada tahun 9 H / 631 M dimana Kaisar Heraclius beserta
sejumlah pasukan Arab yang tunduk dibawahnya melakukan konsolidasi kekuatan
untuk menyerang kota Madinah, dan berusaha menghancurkan Islam. Pasukan Islam
pun menyiapkan pasukan yang sangat besar jumlahnya, kurang lebih 300 ribu
orang. Kaisar Heraclius merasa takut dan gentar, kemudian ia meminta perdamaian
dan bersedia membayar pajak atau Jizyah.
Ketika Abu Bakar
menjabat sebagai Khalifah pertama, ia berusaha mewujudkan keinginan untuk
memperluas wilayah Islam hingga ke Syria yang berada dibawah kekuasaan bangsa
Romawi Timur dengan menugaskan empat orang panglima perang, yaitu:
-
Yazid ibn Abi Sofyan (Damaskus)
-
Abu Ubaidah ibn Jarrah (Homs)
-
Amr ibn ‘Ash (Palestina)
-
Surahbil ibn Hasanah (Yordania)
Usaha perluasan yang dipimpin oleh 4 orang panglima ini diperkuat
lagi dengan datangnya pasukan Khalid bin Walid yang berjumlah 1500 orang, dan
bantuan dari Mutsanna ibn Haritsah.
Di tengah berkecambuknya peran melawan tentara romawi timur ini,
datang berita kewafatan Abu Bakar (13 H / 634 M). Selanjutnya, kedudukan ini
digantikan oleh Umar.
Saat pemerintahan Umar, usaha ini terus dilanjutkan. Kemenangan
dalam perang Yarmuk pada masa Abu Bakar membuka jalan bagi Umar untuk
menggiatkan usahanya.
Khalifah Umar juga melanjutkan perluasannya ke Mesir. Saat itu
bangsa Qibti sedang mendapat penganiyaan dari bangsa Romawi. Setelah berhasil
menaklukan Syria dan Palestina, khalifah Umar memberangkatkan pasukannya menuju
Mesir di bawah pimpinan Amr ibn Ash.
Diantara jasa Abu Bakar adalah membukukan Al-Qur’an menjadi satu
mushaf dan memerangi kaum Murtad, hingga membasmi munculnya nabi-nabi palsu.
Dan peninggalan Umar bin Khattab selama ia menjabat khalifah adalah menerbitkan
pemerintahan dengan mengeluarkan Undang-Undang. Selain itu, Umar juga membentuk
beberapa dewan dan membentuk urusan kehakiman dengan hakim yang masyhur saat
itu adalah Ali bin Thalib.
Pada masa pemimpin Utsman, perluasan daerah tetap dilanjutkan. Dan
lebih lencar lagi ketika dibangun armada laut. Dalam upaya pemantapan dan
stabilitas daerah kekuasaan Islam di luar kota Madinah, Utsman melakukan
pengamanan terhadap para pemberontak. Namun karena banyaknya unsur kekeluargaan
dalam kepemimpinan khalifah Utsman pada paruh kedua dari pemerintahannya,
sering terjadi pro dan kontra di kalangan kaum muslimin.
Sepeninggal khalifah Utsman, umat Islam yang pro dengan Ali
kemudian mengangkat Ali sebagai Khalifah ke empat. pada masa Ali, timbul
beberapa gerakan yang menentang pemerintahannya. Karena itu, selama
pemerintahan beliau lebih menekankan kepada pembangunan dan ketertiban dalam
negeri.
Dua
macam kebijakan Khalifah Ali dalam rangka penertiban :
-
Mengganti para wali di daerah-daerah yang
diangkat Utsman bin Affan.
-
Mencabut kembali tanah-tanah yang dibagikan
oleh Khalifah Utsman.
Kebijakan
Ali mengganti para wali itu menimbulkan akibat :
1.
Timbul tiga golongan di kalangan umat Islam,
yaitu:
a.
Golongan Ali.
b.
Golongan Muawiyah, menghendaki Muawiyah
sebagai Khalifah dengan dalih menuntut pembunuhan Utsman.
c.
Golongan Aisyah, Zubair dan Thalhah. Mereka
tidak setuju dengan penuntutan pembunuhan Utsman, dan pengangkatan Ali sebagai
Khalifah.
2.
Terjadinya perang Jamal (perang berunta)
3.
Adanya perselisihan Ali dengan Muawiyah,
sehingga terjadi perang Shiffin.
Perang berunta terjadi tahun 36 H. Dinamai perang Unta karena
panglimanya (Siti Aisyah) mengendarai unta. Pemimpin perang tersebut ialah
Zubair, Thalhah, dan Siti Aisyah.
Sebab-sebab
perang berunta :
1.
Mereka tidak setuju dengan pengangkatan Ali
sebagai Khalifah.
2.
Mereka tidak setuju atas tindakan Ali
mengadakan pergantian wali (gubernur) di beberapa daerah.
3.
Karena Ali tidak mau menuruti permintaan
mereka untuk menghukum orang-orang yang tersangkut dalam pembunuhan Utsman bin
Affan.
Perselisihan antara Ali dan Muawiyah mengakibatkan perang Shiffin,
sebab-sebab perang Shiffin adalah :
1.
Muawiyah menuduh Ali tersangkut dalam
pembunuhan Utsman bin Affan dan menuntutnya.
2.
Ali memecat muawiyah dari kepemimpinan sebagai
wali di Syam.
3.
Muawiyah tidak menerima ajakan Ali untuk
berdamai, dan lebih memilih perang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar